Rabu, 02 Februari 2011

Pasangan Diapari Siregar/ Ratna Mauli Lubis warga Jalan Genteng Gang Keluarga cemasi anaknya di Mesir Abuzar Al Ghifari Siregar dan Hafizah Siregar

Medan, (Analisa)


Situasi di Mesir yang terus tak menentu dan memanas membuat kalangan orang tua di Medan khususnya yang anaknya kuliah di sana cemas dan mendesak kepada kepada pemerintahan SBY untuk segera mengevakuasi dan memberi jaminan keamanan kepada mahasiswa terutama asal Sumut.

Desakan ini disampaikan Ratna Mauli Lubis, warga Jalan Genteng Gang Keluarga, Delitua Medan kepada wartawan di Masjid Gang Bengkok Kesawan Medan, Senin (31/1). Dijelaskan Ratna Lubis, sejak eskalasi kerusuhan meningkat di Mesir Kamis (27/1), komunikasi dengan kedua anaknya Abuzar Al Ghifari Siregar dan Hafizah Siregar terputus. “Kondisi ini tentu sangat mencemaskan karena tidak mendapat informasi tentang nasib dan kondisi kedua buah hatinya yang kuliah di Universitas Al Azhar Jurusan Syariah Islamiyah di Kairo, Mesir,” ungkapnya.

Kontak terakhir dengan anak perempuan saya Hafizah Kamis (27/1). Tapi sejak itu tidak bisa berkomunikasi lagi. Bahkan anak laki-laki saya yang juga kuliah di Mesir tidak bisa menghubungi adiknya karena jaringan informasi diputus. “Tadi waktu saya berjalan ke mari, sempat ada kontak dengan anak laki-laki saya Abuzar Al Ghifari. Dia bilang, bahan makanan nggak ada, sebab semua toko tutup. Dia juga bilang, belum bisa berkomunikasi dengan adiknya,” papar Ratna.

Ratna Mauli Lubis yang didampingi suaminya Diapari Siregar dan sejumlah orang tua mahasiswa yang anaknya kuliah di Mesir mengaku sangat risau dengan kondisi anak perempuannya Hafizah Siregar.
Terlebih lagi kabar terakhir yang diterimanya dari anak laki-lakinya Senin pagi (31/1), stok bahan makanan di tempat tinggal mahasiswa asal Sumut menipis.

Kondisi itu, ungkapnya semakin diperburuk dengan tidak berlakunya penukaran uang karena nilai tukar Dollar Amerika terus anjlok ke nilai terendah. Otomatis perekonomian lumpuh total dan kondisi ini akan sangat mengkhawatirkan keselamatan mahasiswa Indonesia ataupun WNI yang berada di negara tersebut.

Cemas

Yang membuat Ratna dan suaminya makin cemas, ada sebanyak 1.000 tahanan kabur dari penjara dan menjarah di kawasan tempat tinggal anak perempuan dan mahasiswa asal Sumut lainnya. “Para tahanan itu beringas dan kasar. Sementara polisi yang menjaga di penjara sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.

Informasi yang saya terima, para napi itu menjarah di daerah Nasser City, daerah tempat anak perempuan saya tinggal. Itu yang saya sedihkan, saya risau. Mereka masuk ke flat-flat (apartemen mahasiswa asal Sumut) dan menggedor-gedor pintu.

Kalau anak laki-laki saya tadi bilang dikumpulkan di Himpunan Mahasiswa Medan (HMM). Yang saya khawatirkan sekali anak saya yang perempuan,” ucap Ratna sambil menyapu air matanya. Kabar terkahir yang diterima anak laki-lakinya, Abuzar, mahasiswa asal Sumut yang dikumpulkan di HMM sudah tidak bisa lagi keluar rumah. Sebab penjarahan makin meluas.

Evakuasi

Karena itulah, Ratna berharap kepada pemerintah secepatnya mengevakuasi mahasiswa asal Sumut ke tempat aman. Sebab informasi yang diterimanya, mahasiswa asal Fhilipina , Malaysia dan India sudah dievakuasi oleh pemerintahnya.

Tadi pagi, ungkapnya dia baca di twiter, India sudah mengirimkan pesawatnya langsung ke sana untuk mengangkut warganya ke negaranya. Tapi sampai detik ini, Indonesia belum ada. Malah informasi yang saya dapat tadi malam, evakuasi diprioritaskan kepada TKI. Mahasiswa hanya diminta berdiam diri saja di rumah. Justru yang kita takutkan stok makan habis, karena semua toko tutup,” harapnya.

Ratna mendesak pemerintah cepat mengambil langkah evakuasi, karena pesewat tempur pagi kemarin sudah turun dan terbang rendah di Mesir. “Sampai sekarang Presiden Mesir tetap bertahan dan tidak mau mundur. Makanya kita begitu khawatir dan risau,” tutur Ratna.

Hal senada juga disampaikan Naharman, abang dari Syahrul Azwar dan Khairunnisa. Dia bilang, sejak kerusuhan pecah di Mesir sulit berkomunikasi dengan adiknya Syahrul yang juga kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir. Terkahir kali dia dikontak Syahrul Azwar, kemarin. Kepadanya dia minta agar dihubungkan dengan orang tuanya.

“Sebelum kerusahan pecah, saya selalu kontak dengan Syahrul. Tapi sepekan terakhir susah kali,” sebutnya. Katanya, Syahrul sempat terjebak dan tidak bisa keluar karena unjukrasa meluas. Syukurnya, dia memiliki keluarga di Mesir, dan kini Syahrul mengungsi rumah keluarga. “Untung ada pamili di sana. Sehingga cukup aman,” ucap Naharman.

Dia juga memohon kepada pemerintah agar memperhatikan nasib dan keamanan mahasiswa asal Indonesia , khususnya Sumut. Dia tak ingin, mahasiswa Indonesia menjadi korban. “Kalau memang kondisi di sana tidak memungkinkan kondusif untuk belajar dan keamanan terganggu, apalagi adik kami perempuan. Sebaiknya untuk sementara waktu pemerintah memfasilitasi dipulangkan sementara. Ini akan lebih baik,” sebutnya.

Karena kata Naharman, yang namanya kerusuhan tidak ada yang bisa menjamin, seperti kerusahan yang pernah terjadi di Indonesia pada 1998 silam. “Kalau kami ingin, untuk sementara waktu mahasiswa asal Indonesia dipuangkan dan difasilitasi minta kemudahan untuk informasi kapan bisa kembali ke sana ,” harapnya.

Di tempat yang sama, Zainuddin, mediator juga alumni Universitas Al-Azhar, Kairo menyebutkan, dari 200 orang mahasiswa asal Sumut yang kuliah di Mesir, sebanyak 50 orang di antaranya kaum hawa (wanita). “Tidak ada jalan lain, kami meminta Pemprovsu agar mendesak Presiden SBY agar ada tindak lanjut untuk ke depannya. Agar ada jalan keluar atas tindakan yang diambil pemerintah pusat,” pintanya.

Dia juga berharap, mahasiswa asal Indonesia yang terjebak di tempat kost atau asrama mahasiswa di Mesir secepatnya dievaluasi atau dipulangkan ke Indonesia . “Kondisi di sana tak bisa diharapkan, tidak ada tanda-tranda kesudahan kerusuhan,” bebernya.

Pemprovsu bantu

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) akan memberikan bantuan kepada sekira 400 mahasiswa Sumut yang belajar di negeri Mesir, saat ini tengah dilanda kerusuhan. Artinya, Pemprovsu prihatin peristiwa tersebut karena mereka terjebak dalam suasana kerusuhan. Demikian dikatakan Wagubsu H Gatot Pujo Nugroho ST kepada wartawan di Medan, Senin (31/1).

Dikatakan Wagub, Pemprovsu meminta kepada Pemerintah Pusat Cq Menteri Pendidikan dan Menteri Agama tentang keamanan mahasiswa Sumut yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Mahasiswa Sumut yang sedang belajar di Mesir sekitar 400 orang dari kurang lebih sebanyak 5000 mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir agar dipastikan dalam keadaan aman, ujar Wagub. Menurut Gatot, kalau situasi di Mesir makin terus memburuk kita dengan tegas akan meminta kepada pemerintah pusat untuk mengevakuasi mahasiswa kita yang ada di Mesir apakah untuk sementara di pulangkan ke daerah asalnya.

Ditanya berdasarkan informasi bahwa mahasiswa asal Sumut yang sedang menuntut ilmu di Mesir kekurangan makanan karena terjadinya kerusuhan tersebut, Wagub menyatakan akan berkoordinasi dengan pemerintah Pusat terlebih dahulu. Kita juga akan melihat keuangan kita dan kalau mememungkinkan kita akan mengirimkan bantuan untuk mahasiwa kita yang ada di Mesir. “Pemprovsu punya Pos Sumut Peduli, jadi kita bisa memanfaatkannya untuk membantu para mahasiswa kita khususnya dari Sumut” ujar Gatot.

Wagubsu juga mengharapkan kepada para orangtua yang putra/putrinya yang sedang belajar di Mesir untuk terus berdoa serta terus berkoordinasi dengan Pemprovsu tentang adanya informasi informasi yang diperoleh karena menurut Gatot sekarang komunikasi melalui telefon terkendala. “Jadi apabila ada informasi sekecil apapun agar disampaikan sehingga kita bisa secepatnya mengkoordinasikan dengan pemerintah pusat, katanya.(rmd/ir)
Sumber: analisadaily

Tidak ada komentar: