Jumat, 05 Desember 2014

Gadis SMP dibawa ke Gg. Kasih suruh nyabu lalu diperkosa oleh Wira di rumah kosong

Sumber: http://news.okezone.com/read/2014/12/05/340/1075045/siswi-smp-dipaksa-konsumsi-narkoba-diperkosa

MEDAN - Seorang gadis SMP di Delitua, Medan, dipaksa mengonsumsi narkoba jenis sabu dan diperkosa berulang kali oleh pria yang baru dikenal.
Mawar, demikian nama samaran korban, menceritakan pengalaman buruknya yang dialami pada Kamis 4 Desember. Saat itu ia baru saja selesai mengikuti upacara peringatan Hari Guru di sekolahnya dan berniat pulang dengan menggunakan angkot. Ketika menunggu angkot di tepi jalan, Mawar dihampiri seorang pria yang mengaku bernama Wira. Usai kenalan dan mengobrol, Mawar lalu diajak berjalan-jalan.
Awalnya Mawar sempat menolak, namun karena pelaku memaksa, akhirnya korban menuruti permintaan pria itu.
"Tapi, aku malah dibawa ke sebuah rumah kosong di Jalan Kasih, Kecamatan Delitua," ujarnya, Jumat (5/12/2014).
Di rumah tak berpenghuni itu, Mawar disekap dan diancam dibunuh jika melawan. Meski takut, Mawar coba melawan, tapi perlawannya itu tak berarti. Menjelang malam, Mawar justru dipaksa mengonsumsi sabu-sabu.
Mirisnya lagi, usai mengonsumsi sabu, Mawar kemudian diperkosa. Tak cuma sekali, tapi berkali-kali selama semalaman.
"Entah apa yang dipikirkannya, padahal baru kenal kami, tega dia melakukannya," ujarnya.
Sehari kemudian, Mawar pun pulang ke rumah. Saat itu, kondisinya acak-acakan dan wajahnya juga tampak pucat. Curiga telah terjadi sesuatu, Mawar langsung ditanyai orangtuanya. Di situ, Mawar mengaku jika dia disekap seorang pria dan dipaksa mengonsumsi sabu dan diperkosa berkali-kali di rumah kosong.
Sampai saat ini pihak kepolisan masih menangani laporan yang dibuat korban.
(crl)

Suriheni (30) dipukul suaminya Darman Perangin-angin di Jalan Pamah

MEDAN - Suriheni (30) tak kuasa menahan rasa sakit di mata sebelah kanan yang terlihat membiru akibat pukulan suaminya, Darman Perangin-angin (DP). Peristiwa tidak mengenakkan itu terjadi di kantin tempat usaha Suriheni, di Jalan Pamah, Kecamatan Delitua, Kota Medan, Sumatera Utara.
Sudah tiga tahun Suriheni menjadi istri DP, suami keduanya setelah bercerai dengan suami pertama. Selama itu, Suriheni mengklaim tidak mendapat perlakuan baik layaknya seorang istri yang dicintai sang suami.
DP mulai ringan tangan sejak mereka jadi pasangan suami-istri. Puncaknya enam bulan belakangan, setelah Suriheni membuka kantin. Alasannya, DP mengaku cemburu dengan laki-laki yang nongkrong di kantin Suriheni.
"Cemburu dia karena banyak laki-laki yang sering duduk di warung, mungkin karena dia yang kayak gitu makanya dia tuding saya yang enggak-enggak," ungkap Suriheni, Jumat (5/12/2014).
Suriheni menceritakan, pemukulan yang menyebabkan matanya biru terjadi pada 2 Desember. DP datang ke kantin yang saat itu sedang ramai pengunujung. DP langsung memukul Suriheni hingga mata kanannya bengkak.
Pengunjung kantin sempat ingin melerai pertikaian itu, namun DP yang diketahui bekerja sebagai supir angkot, langsung mengancam dan melarang pengunjung untuk ikut campur dalam urusan keluarganya.
"Sempat ada yang mau misah, tapi diancam suamiku. Katanya, 'Jangan ikut campur urusan keluarga kami.' Akibatnya, mereka enggak ada yang maju dan hanya melihat. Malu saya dipukuli di depan umum," beber ibu satu anak ini.
Sering mendapat perlakuan kasar dari DS, namun karena kali ini yang terparah. Itu membuat Suriheni memilih untuk melaporkannya kepada pihak kepolisian agar Darman segera ditangkap dan diamankan polisi agar dirinya tenang.
"Sudah capek kali saya. Sering saya dipukuli tiap kami berantam di rumah. Memang berumah tangga pasti ada masalah, tapi saya sudah tidak tahan. Tekad saya bulat untuk melaporkannya ke polisi agar segera ditangkap. Saya ini istrinya yang harusnya dilindungi bukan di pukuli seperti binatang gitu," tambahnya.
Suriheni mendatangi Mapolsek Delitua guna membuat laporan resmi atas KDRT yang dialaminya. Namun, pihak kepolisian terlebih dahulu mengarahkan Suriheni untuk melakukan visum ke Rumah Sakit Sembiring yang kemudian kembali lagi ke Polsek Delitua.
(ris)

Senin, 01 Desember 2014

truk Galian C dari Namorambe & truk tanah timbun dari Mariendal buat Pasar Delitua Macet

Sumber: http://www.sorasirulo.com/2014/11/30/jadi-lintasan-truk-tanah-timbun-pasar-delitua-kembali-macet/

Jadi Lintasan Truk Tanah Timbun, Pasar Delitua Kembali Macet.

IMANUEL SITEPU. DELITUA. Sepekan terakhir, warga yang melintas di lokasi pasar Delitua kembali resah. Pasalnya, persis di simpang 4 lokasi pasar tradisional tersebut, kembali terjadi kemacetan.
“Udah gak tau lagilah gimana cara mengatasi macet ini. Sepertinya gak ada solusi lagi,” kata Andre Tarigan (37) salah satu warga yang terjebak macet kepada Sora Sirulo [Rabu 26/11: Siang].
Ketika dipertanyakan lebih jauh apa sebenarnya sebagai pemicu kemacetan, Andre mengaku akibat truk Galian C yang datang dari arah Namorambe.
“Tapi sekarang, truk Galian C itu bukan saja datang dari arah Namorambe, tapi juga truk pengangkut tanah timbun dari kawasan Mariendal (Kecamatan Patumbak, red.),” kata Andre.

agar Bupati Deliserdang segera melakukan penertiban

Andre dan warga lainya pun berharap agar Bupati Deliserdang Ashari Tambunan melalui Satpol PP segera melakukan penertiban lokasi penambangan Golongan C liar yang saat ini makin menjamur di Kawasan Namorambe dan Patumbak.
“Udah tau Galian C ilegal, tapi kok gak ditindak. Sementara dampaknya juga membuat jalan cepat rusak,” tuturnya mengakhiri.
Foto: Salah satu truk pengangkut tanah timbun melintasi Simpang 4 Pasar Delitua sehingga memicu kemacetan.

Rabu, 05 Maret 2014

Wendi Syahputra 23 warga Jl. Delitua, Pasar I, Desa Sidomulyo Biru-biru berduaan dirumah irma 40 digerebek

Sumber: http://www.jpnn.com MEDAN -  Tertangkap berduaan di dalam kamar, pasangan mesum nyaris diamuk
warga di Jl. Alfalah I, Kel. Glugur Darat I, Kec. Medan Timur.
 
Keduanya yakni Wendi Syahputra (23) warga Jl. Delitua, Pasar I, Desa Sidomulyo, Kec. Biru-biru dan Irma (40) warga Jl. Alfalah I, Kel. Glugur Darat I, Kec. Medan Timur.
 
Penggerebekan ini dilakukan setelah suami Irma bernama Rudi melakukan pengintaian terhadap gerak-gerik istrinya selama 2 minggu belakangan ini. Bersama warga, ia kemudian menggerebek istrinya tersebut bersama pasangan mesumnya, Senin (3/3) sore
 
Informasi yang dihimpun, kecurigaan warga dan suami Irma, bermula ketika melihat Wendy sering mendatangi rumah Irma. Mulanya warga membiarkan kedua pasangan itu, karena nampak berbincang-bincang di luar rumah.
 
Namun, kecurigaan warga muncul saat melihat si pria masuk ke dalam rumah dan pintu dikunci. Setelah menunggu beberapa menit, warga mulai mendekati rumah tersebut dan langsung mengetuknya.
 
Saat pintu rumah Irma diketuk, Irma tak menjawab dan hanya diam. Selang setengah jam kemudian, Irma membuka pintu. Setelah pintu dibuka, Rudi dan warga pun masuk untuk mencari keberadaan Wendi.
 
Setelah dicari-cari, akhirnya Wendi berhasil ditemukan di atap rumah Irma. Meski sudah ketahuan, Wendi tetap mencoba kabur dengan meloncati atap-atap rumah orang.
 
Namun naas, saat meloncat, Wendi salah memijak. Dan seketika itu Wendi jatuh dan dipermak warga. Setelah tertangkap, Rudi bersama warga pun menyerahkan Wendi ke Polsek Medan Timur.
 
"Saya belum cerai dengan Irma. Dan dia (Irma, red) memang sudah lama ingin menggrebek mereka.  Dia masih istri sah saya meski pun kami tidak tinggal serumah lagi," ucap Rudi.
 
Sementara itu, Rony Nasution (27) warga sekitar mengatakan mereka sudah memantaunya selama 2 minggu terakhir. “Kami dengar mereka sering berduaan di rumahnya, makanya kami susun rencana dan menggerebek mereka," terangnya.
 
Terpisah, Kapolsek Medan Timur, Kompol Juliani Prihartini membenarkan adanya laporan perselingkuhan tersebut. "Benar ada laporannya dan Wendi masih diproses. Kita akan mengkronfontir yang terkait," terangnya singkat.(gib)

Lihat kereta api Delitua seperti ini lebih baik dijajah Belanda

Sumber: http://apakabarsidimpuan.com/


(Senyum Pahit Si Bule)

Oleh: Rizal R Surya.
SIANG itu udara di Kota Medan sangat panas sekali. Menurut data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) suhu udara
mencapai 34 derajat celsius. Panasnya suhu udara ini, menjadi bertambah panas akibat suara klakson yang berbunyi sahut menyahut tiada henti.
Saat itu lampu pengatur lalulintas yang berada di persimpangan jalan Jalan Ahmad Yani/Jalan Balaikota memang tidak berfungsi akibat listrik padam. Hal ini mengakibatkan kemacetan yang lumayan panjang. Saat lampu pengatur lalulintas berfungsi dengan baik, di persimpangan jalan biasanya petugas selalu berjaga. Tapi sebaliknya ketika lampu pengatur lalulintas tak berfungsi akibat listrik padam biasanya, petugas tidak ada. Pertanyaannya, bukankah petugas lebih dibutuhkan saat lampu pengatur lalulintas mati daripada saat berfungsi? Tapi inilah kenyataannya.
Di Medan sendiri (sebenarnya di daerah lain di Provinsi Sumatera Utara juga) lampu sering padam. Kalau dokter biasanya menganjurkan pasien makan obat tiga kali sehari, lampu bisa mati empat kali sehari. Bayangkan bagaimana mendeitanya rakyat di provinsi ini!
Di tengah kemacetan arus lalulintas, terlihat sepasang turis asing berdisi di pinggir jalan. Mereka terlihat ingin menyeberang, namun tidak berani. Penulis yang kebetulan berada di dekat sepasang turis ini, menyarankan mereka untuk menyeberang. Namun mereka tidak berani. Sambil setengah memaksa, penulis menggandeng sekaligus memandu mereka melewati sela-sela kendaraan yang tidak henti-hentinya tetap membunyikan klaksonnya.
Setelah berhasil menyeberang jalan kami berkenalan. Rupanya kedua sepasang turis ini berasal dari Spanyol tepatnya Kota Barcelona. Pantas saja bahasa Inggris-nya tidak begitu lancar seperti juga bahasa penulis. Jadilah kami berbahasa Inggris ditambah bahasa Tarzan. Untungnya kesebelasan favoritnya sama dengan penulis. Jadilah kami membicarakan Messi, Neymar, Puyol, Pique, Xavi, Iniesta, Alexis dan lainnya.
Dia heran ketika saya tahu semua nama pemain Barcelona sampai dengan pemain cadangan. Namun dia bertambah heran ketika saya tidak kenal siapa-siapa nama pemain tim nasional (timnas) senior Indonesia. Saya akui pemain timnas senior Indonesia saat ini tidak saya kenal. Paling-paling saya hanya tahu Bambang Pamungkas, itupun sudah tidak dipanggil masuk timnas senior. Saya lebih kenal pemain timnas U-19 seperti Evan Dimas, Maldini Pali dan lainnya.
Di samping heran saya tidak kenal pemain timnas, dia juga heran melihat seringnya listrik mati di Sumut. Dia sudah hampir dua minggu keliling Sumut dan mendapati fakta yang hampir sama. Lampu mati dan jalan rusak!
Dia menunjuk sinar matahari yang bersinar dengan teriknya sepanjang hari. Bukankah sinar matahari merupakan energi yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Dia juga membaca surat kabar banyaknya gunung api di republik ini seperti Sinabung dan Kelud yang sedang erupsi. Bukankah panas bumi bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. “Saya baca di internet bukankah banyak orang pintar di negeri ini. Ada ahli pesawat yang diakui dunia (dia menyebut BJ Habibie), ada ahli astronomi yang menjadi kepala astronomi di Jerman dan banyak lagi yang tersebar di luar negeri. Kenapa mereka ini tidak dimanfaatkan?” Tanyanya.
Kemudian dia melanjutkan ceritanya ketika berjalan-jalan ke Danau Toba dan Berastagi. “Setahu saya sejak zaman Belanda sampai dengan saat ini lebar jalan menujuDanau Toba dan Berastagi tidak bertambah-tambah. Kenapa sudah hampir 70 tahun merdeka dengan peralatan yang serba canggih seperti saat ini, bangsa Indonesia tidak bisa memperlebar jalan yang sangat vital? Dulu saja Belanda dengan peralatan minim bisa membuka akses hutan dan sebagainya,” ungkapnya.
Terakhir ia menceritakan perjalanannya ke ‘Old Medan’ (Deli Tua maksudnya). Dia menjumpai rumah-rumah yang berdiri di atas rel kereta api. “Kereta api itu vital dalam sistem transportasi massal. Maka rencana membangun jalur kereta api Trans Sumatera sangat baik. Tapi saya tidak yakin segera terwujud karena memelihara yang ada saja sulit. Lihatlah jalur Medan ke Old Medan saja dulu zaman Belanda ada, tapi sekarang dibiarkan saja, bahkan di atasnya sudah berdiri rumah. Saya kira kalau Belanda dibiarkan lebih lama menjajah, pasti negara Anda bisa lebih maju,” ujarnya.
Mendengar celotehan si Bule ini sudah mendidih amarahku. Mau kuusir saja di dari permukaan bumi Indonesia. Tapi sebelum amarah ini kumuntahkan, tiba-tiba melintas pikiran dalam kepalaku. Betul pula kata si Bule ini. Kita sudah hampir 70 tahun merdeka dan hidup pada zaman serba canggih, tapi untuk memperlebar jalan ke Danau Toba atau Berastagi saja sulit. Mau membangun jalur kereta api Trans Sumatera, tapi mengurus yang ada saja sulit.
Harus saya kuakui, meski pahit tapi apa yang dikatakan si Bule ada benarnya. Akui yang benar meski pahit!
bangsa Indonesia tidak bisa memperlebar jalan yang sangat vital? Dulu saja Belanda dengan peralatan minim bisa membuka akses hutan dan sebagainya,” ungkapnya.
Terakhir ia menceritakan perjalanannya ke ‘Old Medan’ (Deli Tua maksudnya). Dia menjumpai rumah-rumah yang berdiri di atas rel kereta api. “Kereta api itu vital dalam sistem transportasi massal. Maka rencana membangun jalur kereta api Trans Sumatera sangat baik. Tapi saya tidak yakin segera terwujud karena memelihara yang ada saja sulit. Lihatlah jalur Medan ke Old Medan saja dulu zaman Belanda ada, tapi sekarang dibiarkan saja, bahkan di atasnya sudah berdiri rumah. Saya kira kalau Belanda dibiarkan lebih lama menjajah, pasti negara Anda bisa lebih maju,” ujarnya.
Mendengar celotehan si Bule ini sudah mendidih amarahku. Mau kuusir saja di dari permukaan bumi Indonesia. Tapi sebelum amarah ini kumuntahkan, tiba-tiba melintas pikiran dalam kepalaku. Betul pula kata si Bule ini. Kita sudah hampir 70 tahun merdeka dan hidup pada zaman serba canggih, tapi untuk memperlebar jalan ke Danau Toba atau Berastagi saja sulit. Mau membangun jalur kereta api Trans Sumatera, tapi mengurus yang ada saja sulit.
Harus saya kuakui, meski pahit tapi apa yang dikatakan si Bule ada benarnya. Akui yang benar meski pahit!
*Penulis wartawan Harian Analisa dan pengelola Warung Baca Dia’fa, Marindal.